Minggu, 09 Maret 2014

Pengelompokkan Seni Rupa "Seni Murni Dan Seni Terapan"

Setiap orang pasti pernah membuat karya seni. Suatu karya seni dapat ditampilkan dalam kesenian. Kesenian merupakan sarana yang digunakan manusia untuk mengekspresikan rasa keindahan dari dalam jiwa manusia. Dalam kesenian terdapat media yang digunakan untuk menampilkan keindahan dan karya seni. Media tersebut adalah seni. Seni yang dimaksud adalah seni rupa, seni musik/suara, seni sastra dan seni teater. Seni-seni tersebut apabila dilakukan oleh orang-orang yang ahli dibidangnya, akan menjadikan suatu kesenian yang sangat bagus. 
Kesenian berasal dari kata seni. Seni pada dasarnya memiliki suatu teori, salah satunya adalah teori seni rupa barat. Dalam teori seni rupa barat mengakibatkan terdapat perbedaan kelas sosial pelaku seni rupa. Perbedaan tersebut terjadi pada orang di perkotaan dengan orang di desa. Orang di kota yang memiliki pendidikan seni secara khusus disebut akademisi. Sehingga orang-orang perkotaan yang mempunyai keahlian di bidang seni sering disebut seniman atau artist. Sedangkan orang-orang di pedesaan yang memiliki kemampuan seni tapi tidak memiliki pendidikan khusus disebut non akademisi. Maka dari itu seorang yang memiliki bakat seni di pedesaan biasanya disebut perajin. Hal itu terlihat adanya jurang pemisah antara masyarakat seni di perkotaan dan di pedesaan. Padahal mereka adalah sama-sama seorang pelaku seni rupa.
Berbicara tentang seni rupa, dapat dikatakan bahwa seni rupa dan manusia itu tidak dapat dipisahkan. Setiap karya seni rupa pasti berhubungan dengan manusia. Manusia sebagai pelaku seni yang menciptakan berbagai karya seni rupa. Setiap manusia bisa membuat karya seni rupa, tapi tidak semua manusia paham tentang seni rupa itu sendiri. Seni rupa merupakan cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang bisa ditangkap mata dan dirasakan dengan rabaan. Kesan ini diciptakan dengan mengolah konsep titik, garis, bidang, bentuk, volume, warna, tekstur, dan pencahayaan dengan acuan estetika. Dalam teori seni rupa barat, disebutkan ada dua seni rupa. Yang pertama seni murni (pure art/fine art) yang kemudian dikenal major art. Yang kedua adalah seni terapan (applied art) yang dikenal dengan sebutan minor art. Berikut ini akan dijelaskan tentang seni murni dan seni terapan.
1.  Seni Murni dapat diartikan sebagai keindahan karya manusia yang dibuat dengan tujuan untuk dinikmati keindahannya. Seperti lukisan pemandangan yang dipajang di ruang tamu, setiap tamu menikmati keindahan lukisan tersebut, hal ini berlaku juga untuk barang-barang pajangan pada ruang tamu berupa benda-benda keramik. Jika barang tersebut tidak dapat dipakai boleh kita katakan sebagai seni murni. sebagai ilustrasi lukisan  sebuah perahu nelayan, apakah lukisan tersebut dapat dipakai, dipakai untuk apa? yang jelas lukisan tersebut hanya dapat dinikmati keindahannya, oleh sebab itu lukisan itu kita namakan seni murni. 

Seni rupa yang termasuk dalam seni murni adalah sebagai berikut.
a. Seni ukir termasuk ke dalam seni murni karena dalam seni ukir biasanya digunakan untuk pajangan, atau menambah unsur keindahan dalam objek tertentu. Misalnya ukiran pada rumah adat bali. Ukiran digunakan untuk memperindah rumah, sehingga manusia bisa menikmati keindahan rumah adat bali. 
b. Seni kaligrafi termasuk dalam seni murni karena dalam seni kaligrafi yang di utamakan adalah unsur keindahan. Unsur keindahan dalam seni kaligrafi dapat dinikmati oleh manusia, sehingga seni kaligrafi termasuk dalam seni murni. 
c.   Seni ilustrasi termasuk dalam seni murni karena hasil dari seni ilustrasi biasanya digunakan untuk pajangan atau melengkapi suatu cerita. Dalam seni ilustrasi yang digunakan untuk pajangan mengandung unsur keindahan yang dapat dinikmati mata. Sehingga seni ilustrasi termasuk dalam seni murni. 
d.   Seni patung termasuk dalam seni murni karena dalam patung biasanya digunakan sebagai pajangan, dan mengutamakan unsur keindahan. Sehingga unsur keindahan dalam seni patung dapat dinikmati oleh mata manusia.
e.  Seni keramik termasuk dalam seni murni karena hasil dari seni keramik yang digunakan untuk pajangan atau hiasan mengandung unsur keindahan. Seni keramik seperti guci adalah seni keramik yang termasuk dalam seni murni.
f.   Seni lukis termasuk dalam seni murni karena dalam lukisan yang di utamakan adalah unsur keindahan. Sehingga lukisan yang dipajang sebagai hiasan termasuk dalam seni murni.
g.   Seni fotografi termasuk dalam seni murni. Karena dalam seni fotografi yang digunakan sebagai pajangan tentunya mengutamakan nilai keindahan. Nilai keindahan akan dinikmati oleh setiap mata yang memandangnya.
h.    Seni kriya termasuk dalam seni murni. Sebagai contoh hasil kerajinan yang digunakan sebagai pajangan atau hiasan lebih mengutamakan nilai estetika. Sehingga setiap seni kriya yang digunakan sebagai pajangan termasuk dalam seni murni.

2.  Seni terapan adalah keindahan karya manusia yang mengutamakan nilai fungsional. Seni terapan juga memiliki nilai keindahan, namun selain memiliki keindahan seni terapan juga memiliki fungsi pragmatis, yakni memenuhi keperluan hidup manusia.  Membuat karya seni rupa terapan tidak sebebas membuat karya seni rupa murni karena di dalamnya harus mempertimbangkan persyaratan-persyaratan tertentu, seperti syarat keamanan (security), kenyamanan (comfortable), dan keluwesan dalam penggunaan (flexibility). 

Seni rupa yang termasuk dalam seni terapan adalah sebagai berikut. 
a. Seni keramik juga termasuk dalam seni terapan. Sebagai contoh gelas, cangkir dan piring yang terbuat dari keramik digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Jadi yang di utamakan dalam seni keramik seperti itu adalah nilai fungsional.
b. Seni tekstil termasuk dalam seni terapan karena dalam seni tekstil mengutamakan nilai fungsional. Baju yang dibuat biasanya lebih mementingkan nilai guna daripada nilai keindahan. Dengan demikian seni tekstil termasuk dalam seni terapan.
c. Seni reklame termasuk dalam seni terapan. Contoh seni reklame adalah poster, baliho, spanduk dan stiker. Seni reklame dibuat dengan tujuan tertentu, misalnya baliho dibuat untuk menyampaikan informasi atau pesan. Jadi nilai fungsional lebih di utamakan.
d. Seni ilustrasi juga termasuk dalam seni terapan. Gambar ilustrasi yang terdapat dalam sebuah cerita digunakan untuk menerangkan isi cerita, menjelaskan isi cerita dan menyampaikan informasi dalam cerita. Dengan demikian seni ilustrasi dalam sebuah cerita termasuk dalam seni terapan.
e.  Seni fotografi juga termasuk dalam seni terapan. Sebagai contoh sebuah foto yang digunakan untuk memberikan informasi kepada seseorang. Dari foto tersebut seseorang akan mendapatkan informasi yang mungkin bermanfaat baginya. Dengan demikian seni fotografi termasuk dalam seni terapan.
f.    Seni kriya juga termasuk dalam seni terapan. Sebagai contoh kerajinan kipas dan tempat buah. Kerajinan tersebut mengutamakan nilai fungsional, sehingga dapat digunakan oleh manusia.
       
 NB: Tugas Seni Rupa Pertemuan ke-3


Minggu, 02 Maret 2014

Melukis Dengan Cat Air

Seni rupa merupakan istilah yang tidak asing bagi kita. Banyak orang yang pernah mendengar kata seni rupa, namun tidak mengetahui arti dari seni rupa itu. Seni rupa adalah cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang bisa ditangkap mata dan dirasakan dengan rabaan. Kesan ini diciptakan dengan mengolah konsep garis, bidang, bentuk, volume, warna, tekstur, dan pencahayaan dengan acuan estetika.
Seni rupa juga diajarkan pada perguruan tinggi keguruan seperti jurusan pendidikan guru sekolah dasar. Para calon guru diharapkan bisa mengajarkan seni di sekolah dasar dengan baik, sehingga dapat mengembangkan kreativitas berpikir siswa SD dengan baik. Berhubungan dengan hal tersebut, saya sebagai mahasiswa juruan pendidikan guru sekolah dasar mendapatkan mata kuliah seni rupa dalam proses perkuliahan. Pada mata kuliah seni rupa ini, saya diajarkan oleh bapak dosen yang bernama Pak Jajang.
Pada pertemuan pertama kuliah seni rupa, bapak dosen memulai dengan perkenalan. Karena Pak Jajang baru pertama kali memberi kuliah di kelas saya, jadi saya dan teman-teman belum kenal dengan beliau. Selesai perkenalan, dilanjutkan dengan pemberian materi tentang seni rupa dan memberikan tugas untuk membawa bahan-bahan yang akan dipakai dalam pertemuan selanjutnya. Sistem perkuliahan yang diajarkan oleh Pak Jajang tidak menoton hanya materi saja. Tetapi diselingi antara materi dan praktek agar pembelajaran bervariasi dan tidak menimbulkan rasa bosan bagi mahasiswa.
Sesuai dengan hal di atas, maka pada pertemuan kedua akan dilakukan perkuliahan dengan praktik. Praktik yang dilakukan adalah belajar menggambar sederhana dengan menggunakan cat air. Pembelajaran itu bertujuan agar saya sebagai calon guru bisa mengajarkan seni kepada siswa SD dengan baik dan memperhatikan minat belajar anak. Berikut ini adalah hasil praktik perkuliahan seni rupa yang saya lakukan di kelas.


Gambar 1.
Gambar di atas adalah hasil gambar saya pada praktik perkuliahan seni rupa. Gambar tersebut terlihat sangat sederhana dan tidak terlihat seperti gambar seorang mahasiswa. Tujuan menggambar pada kegiatan itu adalah melatih keberanian dalam menjalankan kuas. Kuas yang dijalankan dalam menggambar dapat mencerminkan pemikiran seseorang. Apakah seseorang bisa percaya diri dalam menggambar atau tidak. Di sekolah dasar kelas rendah sangat penting untuk mengajarkan siswa menggambar seperti itu. Karena dalam belajar menggambar seperti itu akan dapat melatih kreativitas siswa. Saat proses menggambar kita biarkan anak berkreasi sesuai dengan imajinasinya dan keberaniannya dalam menggerakkan tangan saat menggambar.
Pada gambar itu, saya menggambar dengan beberapa warna. Awalnya saya tidak terpikirkan akan membuat apa, tapi saya goreskan kuas sesuai dengan gerakan tangan. Saat selesai menggoreskan kuas dengan warna biru muda, barulah saya menentukan pola yang saya buat. Saya membuat pola seperti bendera, dengan memadukan warna biru muda, kuning, merah dan hijau. Gambar itu saya isi dengan gambar bintang dan gambar lingkaran agar lebih menarik.



  
Gambar 2.
  
Gambar 3
Pada gambar kedua itu saya membuat dengan teknik meratakan dengan penggaris. Sesungguhnya cara menggambar seperti itu sangat sederhana dan mudah untuk dilakukan oleh anak SD. Saya melakukan dengan dengan beberapa kali percobaan. Percobaan pertama menghasilkan gambar yang belum bagus. Dari sekian percobaan yang saya lakukan, gambar di atas adalah gambar yang menurut saya paling baik. Cara membuat gambar seperti itu dengan melipat kertas gambar menjadi dua bagian yang sama besar. Kemudian membuat titik-titik menggunakan cat air pada satu sisi kertas. Selanjutnya kertas ditutup atau ditempelkan, dan bagian luar kertas diratakan atau diusap dengan penggaris dengan gerakan melingkar dan lurus.
Cara menggambar seperti itu sangat menarik bagi siswa. Setelah siswa melakukan cara menggambar seperti itu, dan telah mendapatkan hasil, maka siswa bisa melajutkan menggambar sesuai dengan keinginan siswa. Terlebih dahulu siswa akan menebak, hasil gambar tadi itu seperti apa. Jika seperti ikan, maka siswa diminta untuk melanjutkan menggambar ikan. Untuk calon guru akan sangat bermanfaat cara menggambar seperti ini, dan bisa diterapkan saat mengajar di sekolah dasar.

NB: Tugas Seni Rupa Pertemuan ke-2

Minggu, 22 Desember 2013

Sastra Anak

1.    Karakteristik sastra anak sekolah dasar
Dalam kategori tahap-tahap perkembangan yang dikemukakan oleh Piaget, anak usia sekolah dasar yaitu umur 7-12 tahun, masuk dalam kategori tahap operational konkret. Anak-anak usia ini memiliki ciri-ciri antara lain:
a.    Memiliki rasa ingin tahu yang besar tentang dunia sekelilingnya. Kerena itu pada umumnya mereka tertarik untuk mengekplorasi lingkungannya dengan hal-hal baru.
b.    Mereka belajar secara efektif bila mereka puas dengan situasi yang ada
c.    Mereka belajar dengan bekerja (learning by doing), mengobservasi (hal-hal nyata, dan berinisiatif mengajar anak-anak lainnya.
Karakteristik anak usia sekolah dasar, memliki 2 fase antara lain:
1.    Masa kelas-kelas rendah sekolah dasar kira-kira umur 6 atau 7 tahun sampai umur 9 atau 10 tahun.
Beberapa sifat khas anak pada masa ini antara lain adalah:
1)   Senang bermain,
Anak senang bermain maksudnya dalam usia yang masih dini anak cenderung untuk ingin bermain dan menghabiskan waktunya hanya untuk bermain karena anak masih polos yang dia tahu hanya bermain maka dari itu agar tidak megalami masa kecil kurang bahagia anak tidak boleh dibatasi dalam bermain..
2)   Senang bergerak
Anak senang bergerak maksudnya dalam masa pertumbuhan fisik dan mentalnya anak menjadi hiperaktif seperti merasa tidak lelah dan tidak mau diam.
3)   Senang bekerja dalam kelompok
Dalam kelompok tersebut anak dapat belajar memenuhi aturan-aturan kelompok, belajar setia kawan, belajar tanggung jawab, dan belajar bersaing dengan orang lain secara sehat (sportif). Guru dapat membuat suatu kelompok kecil misalnya 3-4 anak agar lebih mudah mengkoordinir karena terdapat banyak perbedaan pendapat dan dapat mengurangi pertengkaran antar anak dalam satu kelompok. Kemudian anak tersebut diberikan tugas untuk mengerjakannya bersama. Dengan hal tersebut, anak harus bertukar pendapat dan menjadi lebih menghargai pendapat orang lain.
4)   Senang merasakan/melakukan sesuatu secara langsung.
Ditinjau dari teori perkembangan kognitif, anak SD memasuki tahap operasional konkret. Dari apa yang dipelajari di sekolah, ia belajar menghubungkan konsep-konsep baru dengan konsep-konsep lama.
5)   Anak cengeng
Pada umur anak SD, anak masih cengeng dan manja. Mereka selalu ingin diperhatikan dan dituruti semua keinginannya mereka masih belum mandiri dan harus selalu dibimbing.
6)   Anak sulit memahami isi pembicaraan orang lain.
Pada pendidikan dasar yaitu SD, anak susah dalam memahami apa yang diberikan guru, guru harus dapat membuat atau menggunakan metode yang tepat misalnya agar anak dapat memahami pelajaran yang diberikan dengan menemukan sendiri inti dari pelajaran yang diberikan.
7)   Senang diperhatikan
Di dalam suatu interaksi sosial anak biasanya mencari perhatian teman atau gurunya mereka senang apabila orang lain memperhatikannya, dengan berbagai cara dilakukan agar orang memperhatikannya.
8)   Senang meniru
Dalam kehidupan sehari-hari anak mencari suatu figur yang sering dia lihat dan dia temui. Mereka kemudian menirukan apa yang dilakukan dan dikenakan orang yang ingin dia tiru tersebut. Dalam kehidupan nyata banyak anak yang terpengaruh acara televisi dan menirukan adegan yang dilakukan, misalkan acara smack down yang dulu ditayangkan sekarang sudah ditiadakan karena ada berita anak yang melakukan gerakan dalam smack down pada temannya, yang akhirnya membuat temannya terluka. Namun sekarang acara televisi sudah dipilah-pilah untuk siapa acara itu ditonton.
2.    Masa kelas-kelas tinggi sekolah dasar kira-kira umur 9 tahun 10 tahun sampai kira-kira umur 12 atau 13 tahun


Beberapa sifat khas anak-anak pada masa ini adalah:
1)   Adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret
2)   Amat realistis, ingin tahu, ingin belajar
3)   Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal dan mata pelajaran khusus
4)   Sampai kira-kira umur II tahun anak dapat membutuhkan seorang guru/orang-orang dewasa lainnya untuk menyelesaikan tugasnya dan memenuhi keinginannya. Setelah kira-kira umur II tahun pada umumnya anak menghadapi tugasnya dengan bebas dan berusaha menyelesaikannya sendiri

2.    Contoh karya sastra anak
Karya sastra anak adalah karya sastra yang isinya mengenai anak-anak; kehidupannya,kesenangannya,sifat-sifatnya,dan perkembangannya. Perbeda-an yang mencolok antara karya sastra anak dengan karya sastra orang dewasa terletak pada tingkat keterbacaan dan tingkat kesesuaiannya.
Keterbacaan adalah mudah tidaknya suatu bacaan untuk dicerna,dihayati,dipahami, dan dinikmati oleh pembacanya. Kriteria keterbacaan meliputi: kejelasan bahasa, kejelasan tema, kejelasan tema, kesederhanaan plot, kejelasan perwatakan, kesederhanaan latar, dan kejelasan pusat pengisahan. Sedangkan kesesuaian, karya sastra anak-anak harus memperhatikan perkembangan psikologi atau jiwa, usia dan moral anak-anak.
Dengan demikian, sastra anak-anak dapat dikatakan bahwa suatu karya sastra yang bahasa dan isinya sesuai perkembangan usia dan kehidupan anak, baik ditulis oleh pengarang yang sudah dewasa, remaja atau oleh anak-anak itu sendiri. Karya sastra yang dimaksud bukan hanya yang berbentuk puisi dan prosa, melainkan juga bentuk drama.
1.    Apresiasi Sastra Secara Reseptif
Apresiasi sastra secara reseptif adalah penghargaan, penilaian, dan pengertian terhadap karya sastra, baik yang berbentuk puisi maupun prosa yang dapat dilakukan dengan cara membaca, mendengarkan dan menyaksikan pementasan drama.
Ada beberapa pendekatan yang dapat diterapkan dalam mengapresiasi sastra secara reseptif, diantaranya sebagai berikut:
1)        Pendekatan Emotif
Pendekatan emotif merupakan pendekatan yang mengarahkan pembaca untuk mampu menemukan dan menikmati nilai keindahan (estetis) dalam suatu karya sastra tertentu, baik dari segi bentuk maupun dari segi isi.
2)        Pendekatan Didaktis
Pendekatan didaktis mengantar pembaca untuk memperoleh berbagai amanat, petuah, nasihat, pandangan keagamaan yang sarat dengan nilai-nilai yang dapat memperkaya kehidupan rohaniah pembaca.
3)        Pendekatan Analitis
Pendekatan analitis merupakan pendekatan yang berupaya membantu pembaca memahami gagasan, cara pengarang menampilkan gagasan, sikap pengarang, unsur intrinsik dan hubungan antara elemen itu sehingga dapat membentuk keselarasan dan kesatuan dalam rangka terbentuknya totalitas bentuk dan maknanya. Namun demikian, penerapan pendekatan analitis dalam pembelajaran sastra di SD tidaklah berarti harus selengkap seperti yang dipaparkan diatas. Dianggap telah memadai, jika telah dapat mengungkapakan unsur-unsur yang membangun karya sastra yang dibaca, dan dapat menunjukkan hubungan antarunsur yang saling mendukung atau saling bertentangan, serta mampu memaparkan pesan-pesan yang dapat memperkaya pengalaman rohaniah.
2.    Apresiasi Sastra Secara Produktif
Ada beberapa pendekatan yang dapat diterapkan dalam mengapresiasi sastra secara produktif, diantaranya sebagai berikut:
1)        Pendekatan Parafrastis
Parafrase merupakan salah satu keterampilan yang dapat meningkatkan apresiasi sastra siswa. Melalui parafrase, siswa berlatih mengubah bentuk karya sastra tertentu menjadi bentuk karya sastra yang lain tanpa mengubah tema atau gagasan pokoknya.


2)        Pendekatan Analitis
Pendekatan Analitis merupakan pendekatan yang mengarahkan pembaca untuk memahami unsur-unsur intrinsik yang membangun suatu karya sastra tertentu dan hubungan antarunsur yang satu dengan lainnya sebagai suatu kesatuan yang utuh.
Contoh Puisi
ANAK
Cintaku padamu ibu
Saat ku termenung dalam lamunan
Ku teringat wajahmu
Senyummu yang tak pernah pudar
Selalu warnai hariku


Cinta yang engkau berikan
Telah membuatku menangis didalam kalbu
Engkau menjagaku sejak dulu
Hingga saat ini

Kehadiranmu yang membuat
Ku bisa ada didunia ini
Dengan kasihmu
Aku tumbuh menjadi anak yang baik


Contoh Prosa
Kado ultah buat adikku
Minggu yang lalu adalah hari ulang tahun adikku. Waktu itu aku ingin memberi kado istimewa untuknya. Pulang dari sekolah aku mampir ke took elektronik, kubeli beberapa komponen rangkaian “Suara Burung” seperti yang pernah diberikan Pak Harun pada kegiatan ekstrakurikuler satu bulan yang lalu. Komponen “Suara Burung” sengaja kurangkai malam hari, saat adikku tidur. Begitu selesai, kukemas rapi dengan sampul bergambar aneka robot. Ya, kado kecil mungil dan cantik. Beberapa bungkus kado telah berjajar rapi di samping tempat tidur Willy, adikku.
Kado-kado itu dari saudara sepupu dan teman-teman akrabnya di kelas II. Pelan-pelan kulangkahkan kaki ke kamarnya. Kucium kening Willy sambil mengucapkan Selamat Ulang Tahun, dengan memberikan Kemasan “Suara Burung” hanya sebesar genggaman orang dewasa, kuletakkan di telapak tangannya. Sebenarnya ia masih tidur, tetapi perlahan-lahan Selepas azan subuh tiba-tiba Willy berteriak, “Ibuuu aku terlambat ke sekolah, nih! Burung kutilang sudah berkicau, Buu! Dia suka bertengger di pohon mangga itu saat jam tujuh, Buuu!” Kami berhamburan ke kamar Willy. Iih, dia belum melepas selimutnya. “Lihat jam dinding!” kataku. Mata Willy masih terpejam malas. “Burung kutilang itu sudah berkicau, Kak! Biasanya jam tujuh!” Ibu menarik selimut Willy. Adik manja itu bangun. Tiba-tiba suara kicauan burung berhenti. Willy dan ibu bengong melihat Kado pemberianku tertindih bahu Willy. Sambil tersenyum manis Willy membuka kado itu. “Ooo, pantesan burung-burung berkicau, saklarnya kepencet Kak!” Kami pun tertawa bersama-sama seraya memeluk Willy.







Contoh Ringkasan Jurnal

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN TERPADU TIPE CONNECTED BERBANTUAN MEDIA GAMBAR TERHADAP HASIL
BELAJAR IPA SISWA KELAS IV SD
I Gd. Agus Mayga Putra1, I Nym. Murda2, I G. A. Tri Agustiana3
1,2,3Jurusan PGSD, FIP
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia
e-mail: 12megabyte@gmail.com1, nyomanmurda@yahoo.co.id2, igustiayutriagustiana@yahoo.co.id3

Pengembangan IPTEK sangat ditentukan oleh penguasaan terhadap IPA. Teknologi yang dinikmati sekarang sebagian besar tercipta melalui penerapan konsep dan prinsip IPA. Oleh karena itu, pengembangan kemampuan peserta didik dalam bidang ilmu pengetahuan alam merupakan salah satu kunci keberhasilan peningkatan kemampuan dalam era teknologi informasi. Mengingat begitu pentingnya IPA di sekolah dan kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari maka pemerintah, dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional berupaya untuk meningkatkan kemampuan IPA antara lain melalui penyempurnaan kurikulum pendidikan IPA dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pemerintah juga melakukan peningkatan sarana dan prasarana pendidikan, memperbaiki metode pengajaran para guru melalui pengadaan penataran guru, seminar kependidikan, hingga pelaksanaan sertifikasi guru sebagai upaya untuk meningkatkan profesionalisme guru yang akan berimbas pada peningkatan kualitas pendidikan.
Namun pada kenyataannya, pembelajaran yang diharapkan kurikulum belum terwujud dilapangan. Hal ini diperkuat berdasarkan hasil observasi di beberapa SD Gugus VI di Kecamatan Tegallalang Kabupaten Gianyar yang terdiri dari SD No. 1 Taro, SD No. 2 Taro, SD No. 3 Taro, SD No. 4 Taro, SD No. 5 Taro, dan SD No. 6 Taro. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan, dapat diketahui bahwa rata-rata hasil nilai skor ulangan umum mata pelajaran IPA di kelas IV masih banyak yang berada di bawah KKM. Dari hasil observasi juga diketahui bahwa guru lebih banyak menggunakan model pembelajaran langsung dengan metode ceramah.
Melihat permasalahan tersebut, guru perlu menemukan cara terbaik dalam menyampaikan konsep IPA di kelas. Berkenaan dengan hal itu, dapat digunakan suatu model pembelajaran terpadu tipe connected. Model pembelajaran terpadu tipe connected merupakan model yang menghubungkan satu konsep dengan konsep lain, satu topik dengan topik lain, satu keterampilan dengan keterampilan lain, tugas yang dilakukan dalam suatu hari dengan tugas yang dilakukan pada hari berikutnya, serta ide-ide yang dipelajari.
Langkah-langkah dalam model pembelajaran terpadu tipe connected adalah langkah ke-1 adalah pendahuluan, dalam langkah ini ada empat kegiatan pokok kegiatan antara lain mengaitkan pembelajaran dengan pembelajaran sebelumnya, guru memotivasi siswa, memberikan pertanyaan kepada siswa terkait konsep prasyarat yang harus dikuasai siswa dan mejelaskan tujuan pembelajaran kepada siswa. Langkah ke-2 yaitu presensi materi, kegiatan dalam langkah ini adalah presentasi konsep-konsep yang harus dikuasai siswa, yang meliputi kegiatan demonstrasi atau presentasi keterampilan. Langkah ke-3 yaitu membimbing pelatihan, dalam langkah ini kegiatan utama guru adalah mengaktifkan siswa untuk berdiskusi secara berkelompok lewat bantuan LKS dan memberikan bimbingan dan pelatihan pada siswa untuk menyusun laporan. Langkah ke-4 yaitu menelaah pemahaman dan memberikan umpan balik, dalam langkah ini siswa siswa berdiskusi kemudian mempresentasikan hasil diskusi dan meminta kelompok lain untuk menanggapi hasil presentasi. Setelah hasil diskusi ditanggapi, guru membimbing siswa dalam meyimpulkan topik pembahasan. Langkah ke-5 yaitu mengembangkan dengan memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan. Dalam langkah ini guru memberikan kesempatan untuk pelatihan terepan dengan memberikan tugas-tugas terkait dengan materi. Langkah ke-6 yaitu menganalisis dan mengevaluasi, dalam langkah ini guru memberikan evaluasi untuk mengetahui sejauh mana siswa telah menguasai isi materi.
Dalam melaksanakan semua langlah-langkah tersebut diperlukan adanya pemanfaatan suatu media pembelajaran. Salah satu media yang dapat mendukung pembelajaran connected adalah media gambar. Berdasarkan uraian di atas, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran terpadu tipe connected berbantuan media gambar terhadap hasil belajar siswa kelas IV di SD Gugus IV Kecamatan Tegallalang Kabupaten Gianyar.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu dengan desain penelitian non equivalent post-test only control group desain. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV semester II di SD Gugus IV Kecamatan Tegallalang yang berjumlah 186 siswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik random sampling. Sampel penelitian ini adalah siswa kelas IV A SD No. 1 Taro yang berjumlah 28 orang sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas IV B SD No. 1 Taro yang berjumlah 28 orang sebagai kelas kontrol. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode tes. Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes tipe pilihan ganda. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial.
Berdasarkan analisis data, hasil penelitian ini menunjukkan secara keseluruhan terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA antara siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran terpadu tipe connected berbantuan media gambar dengan siswa yang dibelajarkan menggunakan model pengajaran langsung (direct instruction). Perbedaan tersebut dilihat dari hasil skor hasil belajar IPA siswa diperoleh thitung lebih besar dari ttabel (thitung=3,815>ttabel=2,021) pada taraf signifikansi 5%. Dengan kata lain, model pembelajaran terpadu tipe connected berbantuan media gambar berpengaruh terhadap hasil belajar IPA siswa dibandingkan dengan model pengajaran langsung (direct instruction).
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa, terdapat perbedaan yang signifikan antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran terpadu tipe connected berbantuan media gambar dengan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran langsung (direct instruction. Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan dan simpulan di atas penulis mengajukan beberapa saran sebagai berikut. 1) Untuk siswa sekolah dasar agar selalu terlibat secara aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran sehingga mendapatkan pengetahuan baru melalui pengalaman yang ditemukan sendiri, 2) Bagi guru agar terus melakukan inovasi pembelajaran untuk meningkatkan profesionalisme dan mengembangkan model pembelajaran terpadu tipe connected di sekolah dasar sehingga dapat meningkatkan kualitas hasil pembelajaran, 3) Bagi sekolah, hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan untuk meningkatkan pengelolaan pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran di sekolah dasar serta sebagai tolak ukur peningkatan kualitas sekolah dalam melakukan inovasi pembelajaran di sekolah dasar. 4) Kepada peneliti lain yang berminat untuk mengadakan penelitian lebih lanjut tentang model pembelajaran terpadu tipe connected berbantuan media gambar agar memperhatikan kendala-kendala yang dialami dalam penelitian ini sebagai bahan pertimbangan untuk perbaikan dan penyempurnaan penelitian yang akan dilaksanakan.


video daur air dengan PPT